REVITALISASI LOKSEM HUKUMNYA WAJIB   Leave a comment

Lokasi usaha sementara (Loksem) atau yang lebih populer disebut dengan JP, JU, JB, JS atau JT tergantung kota tempat loksem tersebut berada, kini kian marak. Kita ambil contoh Jakarta Pusat. Di Jakarta Pusat terdapat 42 loksem, yaitu: JP01 – JP42 dengan total pedangang sebanyak 2.702 dan total luas lahan mencapai 25.902 M2.

Jenis Loksem di Jakarta Pusat sangat beragam. Jenis terbanyak adalah makanan dan minuman. Namun, selain itu juga terdapat loksem kelontong, bengkel sepeda, bunga rangkai, barang bekas (loak), elektronik, sembako, batu cincin dan masih banyak lagi.

- JP 02 di Jalan Surabaya -

– JP 02 di Jalan Surabaya –

Diantara 42 JP tersebut, yang sudah cukup terkenal antara lain adalah JP02 yang berlokasi di jalan Surabaya, Jakarta Pusat. Loksem yang menjual barang-barang antik dan koper ini bukan saja terkenal secara nasional, tetapi juga sudah dikenal di manca negara.

Selain itu, loksem yang juga tak kalah terkenalnya adalah JP23 yang berada di jalan Gunung Sahari Timur 7A. Loksem yang menempati area seluas 3.500 M2 ini dihuni oleh 70 pedagang ikan hias. Selain tempatnya yang mudah dijangkau, loksem ini menawarkan aneka ragam jenis ikan hias yang mungkin sulit ditemukan di tempat lain.

Keberadaan loksem di setiap wilayah di Jakarta sesungguhnya merupakan bagian dari solusi  penciptaan dan penyediaan lapangan kerja serta upaya menghidupkan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Namun sayangnya, sebagian besar loksem di Jakarta menempati lokasi yang bukan peruntukannya, seperti: trotoar, taman, di atas saluran air, dll. Dengan demikian, selain tidak dapat dilakukan penataan secara optimal oleh pemerintah daerah, keberadaan loksem kadang juga mengganggu lingkungan sekitarnya. Kian hari, kian kotor dan semrawut.

Berkaca dari kondisi tersebut, maka revitalisasi loksem menjadi wajib. Sudah saatnya loksem ditata kembali secara menyeluruh. Untuk keindahan dan kenyamanan kota, maka seluruh sarana prasarana (sarpras) kota harus dikembalikan sesuai dengan fungsi dan peruntuknnya.

Namun demikian, dalam penataan kota jangan sampai merugikan masyarakat. Jangan sampai penataan loksem ini justru mematikan usaha para Pedagang Kaki Lima (PKL) yang ada di dalamnya dan telah berusaha sekian lama di tempat tersebut. Pengembalian fungsi sarpras kota, termasuk loksem harus disertai upaya penyediaan lokasi usaha yang lebih memadai dan lebih manusiawi bagi para pedagang. Dengan demikian, kota makin tertata rapi, makin nyaman, namun UMKM juga tetap dapat hidup, berkembang dan menjadi salah satu kebanggan kota.

Solusinya adalah pelibatan seluruh unsur yang terkait dalam penataan kota. Harus ada proses penyadaran para PKL yang menempati loksem dan masyarakat sekitarnya untuk penataan kota yang lebih baik. Di sisi lain, pemerintah daerah juga harus segera menyediakan lokasi yang lebih layak untuk tempat usaha mereka dan segera mengurus transisi mereka. Dan yang lebih penting lagi, pasca pemindahan loksem tersebut harus segera dilakukan pengembalian fungsi lahan. Dengan demikian, masyarakat dapat segera merasakan dampak dari penataan kota tersebut. Tidak justru sebaliknya, lahan dibiarkan sehingga ditempati kembali untuk berdagang kembali oleh PKL yang baru.

Kang Agus, 3/2/2015

Ilustrasi Gambar diambil dari : SINI >>

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: