BOP DAN MANDULNYA PRESTASI SEKOLAH   Leave a comment

Biaya Operasional Pendidikan (BOP) adalah biaya operasional yang diberikan secara blog grant kepada sekolah dalam rangka mendukung Program Wajib Belajar 12 Tahun. Pemberian BOP ini ditujukan untuk membuka akses pendidikan seluas-luasnya kepada seluruh lapisan masyarakat, dengan cara meringankan beban biaya pendidikan. Dengan pemberlakuan BOP ini, diharapkan peserta didik terbebas dari seluruh jenis pungutan, karena operasional sekolah telah ditanggung sepenuhnya oleh BOP.

Pada masa kelahirannya tahun 2005 silam, BOP ini merupakan sandingan dari Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang dikeluarkan oleh Pemerintah Pusat dan hanya diperuntukkan bagi jenjang pendidikan dasar negeri, yaitu SDN/MIN dan SMPN/MTsN. Kemudian mulai tahun 2007, cakupan BOP diperluas ke jenjang pendidikan menengah negeri, yaitu SMAN/MAN dan SMKN.

Alokasi BOP yang diterima oleh masing-masing sekolah sangat bervariasi, tergantung jenjang pendidikan dan jumlah peserta didik. Makin tinggi jenjang pendidikan, makin besar unit cost BOP. Makin banyak jumlah peserta didik, makin besar pula BOP yang diterima oleh sekolah yang bersangkutan.

Tatacara pemanfaatan BOP diatur dalam Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) dan Petunjuk Teknis (Juknis) yang dikeluarkan oleh Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta. Selain untuk memenuhi kebutuhan operasional sekolah, BOP juga dapat dimanfaatkan untuk rehab ringan sekolah, seperti: pengecatan, penggantian genting bocor, perbaikan kunci pintu yang rusak, dll. BOP juga dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan ekstra kulikuler dan peningkatan kualitas guru, seperti: pelatihan, seminar, bimbingan teknis, dll.

Sesuai dengan filosofinya untuk meningkatkan akses pendidikan, indikator keberhasilan BOP dapat lihat dari menurunnya angka putus sekolah, meningkatnya Angka Partisipasi Kasar (APK) dan meningkatnya Angka Partisipasi Murni (APM) di DKI Jakarta. Idealnya, dengan diberlakukannya BOP ini, maka tak ada lagi anak yang tidak sekolah dikarenakan ketiadaan biaya.

Mulai tahun 2012, cakupan program BOP kembali diperluas. Bukan hanya diperuntukkan bagi sekolah negeri, tetapi juga mencakup sekolah-sekolah swasta yang ada di Provinsi DKI Jakarta. Disamping itu, juga dilakukan penyesuain unit cost bagi jenjang pendidikan menengah. Kini, unit cost BOP untuk tiap jenjang pendidikan per peserta didik per bulan sbb: untuk SD/MI sebesar Rp. 60.000,- untuk SMP/MTs sebesar Rp. 110.000,- dan untuk SMA/MA sebesar Rp. 400.000,-. Sedangkan untuk SMK, besaran unit cost BOP bervariasi, tergantung jurusannya. Untuk jurusan manajemen dan bisnis sebesar Rp. 400.000,- untuk jurusan pariwisata dan seni sebesar Rp. 500.000,- dan untuk jurusan teknik, pertanian dan kesehatan sebesar Rp. 600.000,-

Seiring perkembangan jaman, peran BOP dalam memperluas akses pendidikan dirasa tak efektif lagi. Hampir seluruh masyarakat DKI Jakarta telah mampu mengakses pendidikan, yang ditandai dengan angka putus sekolah yang makin rendah serta APK dan APM makin tinggi. Dengan demikian, perlu adanya reposisi peran BOP.
Sejalan dengan hal tersebut, The World Bank bekerjasama dengan Pemprov DKI Jakarta telah melakukan evaluasi BOP. Hasilnya menunjukkan bahwa perlunya perluasan peran BOP, bukan hanya sekedar untuk membuka akses pendidikan bagi seluruh lapisan masyarakat tetapi juga harus mampu mendongkrak mutu pendidikan atau prestasi sekolah.

Dalam hasil evaluasinya, The World Bank juga menawarkan formula baru penghitungan alokasi BOP dengan mengacu pada 3 prisip, yaitu: alokasi dasar, alokasi keterpencilan/keadilan dan alokasi kinerja. Dengan 3 prinsip tersebut, maka sekolah dengan jumlah peserta didik sedikit dan sekolah terpencil seperti sekolah-sekolah di Kepulauan Seribu akan mendapatkan tambahan alokasi anggaran, berupa kompensasi keterpencilan dan kompensasi kemahalan transportasi. Untuk sekolah-sekolah yang berprestasi, juga akan diberikan tambahan alokasi anggaran BOP dari alokasi kinerja. Dengan penerapan 3 prinsip dasar ini diharapkan, sekolah akan berlomba-lomba mengejar prestasi untuk mendapatkan tambahan BOP dari alokasi kinerja.

Semoga penerapan formula baru alokasi BOP mampu mereposisi peran BOP, bukan hanya sebagai jembatan akses pendidikan tetapi juga mampu mendongkrak dan mengukir prestasi sekolah.

Kang Agus, 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: