Proses Perencanaan Pembangunan Berbasis TI   Leave a comment

Sejak tahun 2005, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menerapkan sistem perencanaan pembangunan berbasis teknologi informasi (TI). Mekanisme perencanaan pembangunan dirancang dengan menggunakan system berbasis internet, yaitu system informasi perencanaan pembangunan (SIPP). Sistem informasi tersebut dapat diakses oleh stake holders (pemangku kepentingan) di alamat www.bapedadki.net

Foto : Kang Agus, 2011

Perencanaan dengan TI (Foto : Kang Agus, 2011)

Penerapan system perencanaan pembangunan berbasis TI tersebut memiliki keunggulan sekaligus kelemahan. Beberapa keunggulan yang dimiliki diantaranya adalah : (1). System perencanaan pembangunan berbasis TI memungkinkan akses data dimana saja dan kapan saja. Dengan demikian, proses perencanaan pembangunan bisa berjalan lebih cepat, karena tiap-tiap SKPD/UKPD dapat merancang usulan rencana kerja (Renja) lebih fleksibel; (2). Seluruh proses perencanaan pembangunan dari level terbawah (RW) sampai level teratas (provinsi) terekam dengan baik dalam database system informasi. Data ini penting untuk mengidentifikasi riwayat suatu kegiatan. System ini juga mampu mengidentifikasi waktu (kapan), oleh siapa serta pada fase apa munculnya suatu kegiatan baru, sehingga bisa diketahui dengan jelas asal-usul suatu kegiatan; (3). Proses ini juga menjawab tuntutan masyarakat akan transparansi dan keterbukaan informasi publik, khususnya dalam proses perencanaan pembangunan.

Namun demikian, secanggih apapun suatu system tetap saja mengandung suatu kelemahan. Ada beberapa kelemahan dalam penerapan system informasi perencanaan pembangunan ini, antara lain : (1). Proses ini membutuhkan operator yang handal disetiap lini, dari SKPD di tingkat provinsi sampai SKPD di level kelurahan. Sementara untuk membentuk SDM yang berkualitas di semua SKPD/UKPD tentunya tidaklah mudah. Masalah yang paling sering dijumpai adalah terjadinya pergantian operator, sementara tidak ada transfer ilmu dari operator lama ke operator yang baru, sehingga menggambat jalannya proses perencanaan itu sendiri; (2). Proses supervisi oleh Bappeda/Kanppeko/Kab dilakukan searah (tidak berdialog langsung dengan SKPD/UKPD terkait), sehingga hal ini memungkinkan terjadinya miss komunikasi (salah persepsi) antara supervisor dengan SKPD/UKPD.

Kelebihan dan kelemahan tersebut merupakan sebuah proses yang harus kita terima dan kita benahi bersama. Bagaimanapun juga, di era seperti sekarang ini penggunakaan TI merupakan sebuah keharusan. Pemda Provinsi DKI Jakarta telah memulainya, untuk itu patutlah kita berbangga hati. Namun, kelemahan-kelemahan yang muncul tersebut haruslah kita jadikan sebagai pemicu dan pemacu untuk terus berbenah diri. Dengan penerapan sytem yang baik dibarengi dengan SDM yang berkulitas, diharapkan akan terwujud hasil pembangunan yang lebih baik, tepat sasaran serta efesien. Pada akhirnya, semoga pembangunan yang kita rancang bersama ini dapat bermanfaat bagi masyarakat (Kang Agus, 2011).

Proses Perencanaan Pembangunan

Monev dengan TI (Foto : Kang Agus, 2011)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: