Haruskah Sekolah Gratis?   1 comment

Sekolah Gratis

SDN di Kepulauan Seribu (Foto : Kang Agus, 2009)

Mendengar pertanyaan tersebut, sebagian besar masyarakat tentu akan menjawab HARUS. Sekolah harus gratis, karena undang-undang dasar kita mengamanatkan bahwa tiap-tiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan dan pengajaran. Artinya negara berkewajiban untuk memberikan layanan pendidikan kepada warganya.

Namun, mungkin juga ada yang berpendapat TIDAK HARUS. Pelayanan pendidikan tidak harus gratis karena sesungguhnya penyelenggraan pendidikan bukanah menjadi tanggung jawab pemerintah semata, melainkan tanggung jawab bersama antara pemerintah, swasta dan masyarakat.

Isyu sekolah gratis sering mencuat pada saat menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Slogan sekolah gratis acapkali digunakan dalam rangka mendongkrak popularitas sang calon kepala daerah. Dan ketika sang calon tersebut terpilih, maka janji-janji tersebut haruslah direalisasikan.

Saat ini, DKI Jakarta juga tengah gencar mengupayakan sekolah gratis melalui program Biaya Operasional Pendidikan (BOP). BOP merupakan pendamping program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat (Kementerian Pendidikan Nasional). Namun, karena terbatasnya anggaran saat ini BOP baru diperuntukkan bagi sekolah negeri saja.

Beberapa kalangan memang beranggapan bahwa sekolah tidak harus gratis, karena konon tidak ada satupun negara di dunia ini yang menerapkan sekolah gratis. Disamping itu ada beberapa alasan mendasar yang menyebabkan pemberlakuan sekolah gratis tidaklah menjadi suatu keharusan, yaitu :

(1). Masih banyak masyarakat yang belum tersentuh (terjangkau) dunia pendidikan, seperti anak-anak terlantar dan anak-anak jalanan. Jadi, alangkah baiknya jika anggaran untuk biaya sekolah gratis tersebut dialihkan untuk membangun akses baru bagi mereka yang betul-betul membutuhkan.

(2). Pemberlakuan sekolah gratis untuk semua lapisan masyarakat akan menghabiskan dana yang sangat besar. Pemerintah Daerah mungkin tak akan  sanggup. Namun, jika sekolah gratis hanya diperuntukkan bagi sekolah negeri saja (seperti yang yang diberlakukan saat ini), bisa jadi akan mencederai rasa keadilan masyarakat. Seharusnya pengaturan biaya sekolah bukan didasarkan pada kategori sekolah (negeri-swasta), tetapi lebih didasarkan pada kemampuan masyarakat. Atau dengan kata lain sekolah gratis itu lebih pas bila diterapkan bagi mereka yang betul-betul membutuhkan.

(3). Biaya sekolah merupakan komponen penggerak (motivator) bagi orang tua untuk terus mendorong anaknya tetap bersekolah. Bayangkan jika orang tua tidak kehilangan sepeserpun dalam  menyekolahkan anak-anaknya. Pasti mereka kurang peduli terhadap perkembangan proses belajar mengajarnya. Kalaupun si anak tidak naik kelas (droup out) toh mereka tidak merasa kehilangan.

(4). Masih banyak sekolah-sekolah yang kualitasnya belum sesuai harapan. Jadi, alangkah baiknya jika biaya yang digunakan untuk membiayai sekolah gratis tersebut digunakan untuk mendongkrak kualitas sekolah dengan menyediakan sarana-prasarana pendukung serta peningkatan kualitas tenaga pengajar.

Jadi, sekolah gratis bukanlah suatu keharusan. Sesungguhnya yang lebih penting bukanlah sekedar sekolah gratis, tapi bagaimana menciptakan sekolah yang bekualitas tetapi tetap terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Untuk mewujudkannya dapat ditempuh dengan berbagai cara, antara lain :

(1). Mengembangkan program subsidi silang. Harus diciptakan suatu mekanisme yang memungkinkan siswa kaya membayar lebih dari yang dibayar oleh siswa yang berasal dari keluarga kurang mampu. Atau dengan kata lain, membangun kolaborasi kaya-miskin, dimana si kaya mensubsidi si miskin.

(2). Memberikan akses seluas-luasnya kepada masyarakat untuk mendapatkan pendidikan, tentunya termasuk anak-anak terlantar, anak-anak jalanan, anak-anak yang tinggal di panti, dll. Caranya dengan memperluas akses ke jalur pendidikan (termasuk membuka sekolah malam), memberikan beasiwa penuh, serta untuk anak jalanan yang menjadi tulang punggung keluarga maka keluarganya juga harus diberikan akses ke lapangan pakerjaan;

(3). Mengembangkan program beasiswa penuh untuk siswa miskin dan siswa berprestasi, melengkapi sarana dan prasarana pendukung kegiatan belajar mengajar serta upgrade tenaga pengajar.

(4). Menggalang kepedulian masyarakat kepada dunia pendidikan.

Posted 26/08/2010 by Kang Agus in Pendidikan

Tagged with , , , ,

One response to “Haruskah Sekolah Gratis?

Subscribe to comments with RSS.

  1. Setuju, pendidikan mang ngga harus gratis. Yang penting berkualitas, jangan sampai kalah ma negara lain..

    Agung Rasyanto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: