Jakarta (Masih) Macet   Leave a comment

Kemacetan Jakarta

Macet di Jl. Rasuna Said (Foto : Kang Agus, 2010)

Jakarta mmmacet. Keluhan itu sudah kita dengar sejak lama. Namun, kini kondisinya makin parah. Konon, saat ini Jakarta termasuk kedalam 15 kota dengan peringkat kemacetan terparah di dunia. Tokyo (Jepang) adalah kota dengan tingkat kemacetan terparah, diikuti Los Angeles (USA)  dan Sao Paulo (Brazil). Sedangkan Jakarta (Indonesia) berada pada urutan 14 setelah Manila (Philipine) dan London (UK).

Penyebab kemacetan sangat beragam. Beberapa diantaranya  adalah tidak seimbangnya rasio pertumbuhan kendaraan bermotor dengan pertumbuhan jalan, ketimpangan pertumbuhan antara kota Jakarta dengan wilayah sekitarnya, kompleksnya fungsi kota, serta rendahnya tingkat kedisiplinan, kepatuhan dan masih lemahnya law enforcement.

Data menunjukkan bahwa saat ini di Jakarta terdapat 6,7 juta kendaraan bermotor, terdiri dari 2,4 juta kendaraan roda empat dan 4,3 juta kendaraan roda dua. Jumlah tersebut bertambah sebanyak 1.172 unit per hari, terdiri dari 186 unit kendaraan roda empat dan 986 unit kendaraan roda dua. Ironisnya, panjang jalan di Jakarta hanya 7.650 KM dan luasnya 40,1 KM2 (6,2% luas wilayah DKI Jakarta), dengan pertumbuhan panjang jalan hanya 0,01% per tahun. Tidak seimbangnya  rasio pertumbuhan kendaraan dengan pertumbuhan jalan tersebut menyebabkan kemacetan di Jakarta kini makin parah. Dalam 7 tahun terakhir, kecepatan kendaraan di jalan Jakarta turun dari 26 KM per jam menjadi 20 KM per jam (Koran Tempo, 10 Juli 2010).

Kemacetan juga disebabkan adanya ketidakseimbangan pemeratan pertumbuhan Jakarta dengan wilayah sekitanya (Bogor, Depok Tangerang dan Bekasi). Tidak meratanya pertumbuhan tersebut menyebabkan munculnya arus masuk penduduk ke Jakarta yang cukup besar. Mereka berbondong-bondong mengadu nasib di  Jakarta. Akhirnya munculah arus commuter, yaitu arus yang disebabkan oleh pergerakan penduduk luar Jakarta yang bekerja di Jakarta. Inilah yang menyebabkan kemacetan pada pagi dan sore hari (jam berangkat dan pulang kantor) terlihat lebih padat.

Penyebab kemacetan lainnya adalah berlebihnya  beban fungsi kota Jakarta. Saat ini fungsi kota Jakarta sangat kompleks. Jakarta dijadikan sebagai pusat segala aktivitas. Dari pusat pemerintahan, pusat pendidikan, pusat bisnis  hingga pusat perbelanjaan tumplek di Jakarta. Beragamnya fungsi kota tersebut mengakibatkan pertumbuhan terpusat dan mobilitas penduduk sangat tinggi.

Disisi lain, masih lemahnya tingkat kedisiplinan dan kepatuhan masyarakat pada hukum yang tidak dibarengi dengan law inforcement yang konsisten juga memberikan andil yang cukup besar pada peningkatan kemacetan di Jakarta. Kesemrawutan masih terlihat dimana-mana. Dari kebiasaan angkot yang sering kebut-kebutan dan ngetem sembarangan, kendaraan roda dua yang berjalan zigzag dan kadang melawan arus, kebiasaan melanggar rambu-rambu lalu lintas hingga asongan dan kaki lima yang menggunakan badan jalan untuk berjualan.

Solusi yang dapat menjadi alternatif pemecahan masalah tersebut antara lain :

1). Mengurangi beban fungsi kota dengan cara merasionalisai fungsi kota yang kurang prioritas. Jakarta harus “berani”  memilih. Hanya fungsi kota yang menjadi prioritas saja yang boleh tumbuh di Jakarta. Sedangkan fungsi pendukungnya dapat di pindahkan ke daerah penyangga Jakarta (Bodetabek). Caranya adalah dengan memberikan stimulus pertumbuhan daerah sekitar Jakarta, dengan cara membatasi pertumbuhan (minus growth) terhadap fungsi yang tidak prioritas. Misal melakukan pembatasan perijinan atau pemberlakun pajak yang tinggi. Sementara, daerah penyangga juga harus menangkap kesempatan yang ditawarkan tersebut dengan cara memberikan berbagai kemudahan.

2). Memberlakukan kalender khusus bagi karyawan instansi pemerintah, swasta dan sekolah. Hal ini berkaitan dengan pembagian waktu masuk kerja dan masuk sekolah. Bukan sekedar pengaturan jam masuk sekolah seperti yang telah diterapkan saat ini. Melainkan pengaturan waktu libur. Saat ini semua instansi baik pemerintah, swasta maupun sekolah memberlakukan hari libur pada hari Sabtu dan Minggu. Sehingga pada hari-hari kerja lalu lintas Jakarta sangat padat. Untuk mengurai kemacetan, sesungguhnya dapat diberlakukan kalender khusus, dengan cara melakukan pengaturan kembali terhadap hari kerja dan hari libur. Atau dengan kata lain menggeser dan membagi hari libur. Dengan cara demikian, setiap hari ada institusi yang masuk kerja dan ada juga yang diliburkan.

3). Melakukan pengaturan dan pembatasan terhadap jumlah dan jam keluar kendaraan bermotor. Caranya adalah dengan menerapkan pajak progresif, pembatasan tahun kendaraan atau penerapan nomor ganjil dan genap.  Meski mungkin solusi ini “pahit” bagi Pemda DKI Jakarta karena bisa berdampak pada penurunan penerimaan asli daerah (PAD) dari sektor pajak kendaraan bermotor (PKB), namun solusi ini diharapkan bisa menjadi salah satu alternatif pemecahan masalah kemacetan di Jakarta.

4). Melakukan pembatasan terhadap penggunaan kendaraan pribadi dengan cara mengembangkan angkutan masal, seperti yang mulai dikembangkan di DKI Jakarta saat ini. Angkutan masal yang ada seperti kererta dan bus way bisa menjadi alternatif. Namun, terlebih dahulu harus ditingkatkan kuantitas dan kualitasnya. Sementara di daerah-daerah perbatasan dibangun tempat-tempat parkir terpadu. Dengan demikian, pengguna kendaraan pribadi hanya menggunakan mobilnya sampai perbatasan Jakarta.

5). Mengatasi kesemrawutan lalu lintas dengan cara membangun jalur khusus bagi kendaraan roda dua, penegakan disipilin secara konsisten (law enforcement), penataan pedagang asongan dan kaki lima, penertiban rambu dan marka jalan, penertiban parkir liar dan “polisi cepek”, pengaturan daerah operasi bajaj, serta penataan kembali posisi halte dan jembatan penyebrangan.

6). Mengatur luasan badan jalan pada waktu-waktu tertentu  disesuaian tingkat kepadatan lalu lintas. Caranya dengan membangun separator yang dapat digeser. Hal ini untuk mengatasi tidak berimbangnya arus masuk dan arus keluar kota Jakarta. Pada pagi hari jalur masuk Jakarta dapat diperlebar dengan cara mengeser separator yang ada, demikian juga sebaliknya.

Posted 11/08/2010 by Kang Agus in Transportasi

Tagged with , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: