BOP DAN MANDULNYA PRESTASI SEKOLAH   Leave a comment

Biaya Operasional Pendidikan (BOP) adalah biaya operasional yang diberikan secara blog grant kepada sekolah dalam rangka mendukung Program Wajib Belajar 12 Tahun. Pemberian BOP ini ditujukan untuk membuka akses pendidikan seluas-luasnya kepada seluruh lapisan masyarakat, dengan cara meringankan beban biaya pendidikan. Dengan pemberlakuan BOP ini, diharapkan peserta didik terbebas dari seluruh jenis pungutan, karena operasional sekolah telah ditanggung sepenuhnya oleh BOP.

Pada masa kelahirannya tahun 2005 silam, BOP ini merupakan sandingan dari Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang dikeluarkan oleh Pemerintah Pusat dan hanya diperuntukkan bagi jenjang pendidikan dasar negeri, yaitu SDN/MIN dan SMPN/MTsN. Kemudian mulai tahun 2007, cakupan BOP diperluas ke jenjang pendidikan menengah negeri, yaitu SMAN/MAN dan SMKN.

Alokasi BOP yang diterima oleh masing-masing sekolah sangat bervariasi, tergantung jenjang pendidikan dan jumlah peserta didik. Makin tinggi jenjang pendidikan, makin besar unit cost BOP. Makin banyak jumlah peserta didik, makin besar pula BOP yang diterima oleh sekolah yang bersangkutan.

Tatacara pemanfaatan BOP diatur dalam Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) dan Petunjuk Teknis (Juknis) yang dikeluarkan oleh Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta. Selain untuk memenuhi kebutuhan operasional sekolah, BOP juga dapat dimanfaatkan untuk rehab ringan sekolah, seperti: pengecatan, penggantian genting bocor, perbaikan kunci pintu yang rusak, dll. BOP juga dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan ekstra kulikuler dan peningkatan kualitas guru, seperti: pelatihan, seminar, bimbingan teknis, dll.

Sesuai dengan filosofinya untuk meningkatkan akses pendidikan, indikator keberhasilan BOP dapat lihat dari menurunnya angka putus sekolah, meningkatnya Angka Partisipasi Kasar (APK) dan meningkatnya Angka Partisipasi Murni (APM) di DKI Jakarta. Idealnya, dengan diberlakukannya BOP ini, maka tak ada lagi anak yang tidak sekolah dikarenakan ketiadaan biaya.

Mulai tahun 2012, cakupan program BOP kembali diperluas. Bukan hanya diperuntukkan bagi sekolah negeri, tetapi juga mencakup sekolah-sekolah swasta yang ada di Provinsi DKI Jakarta. Disamping itu, juga dilakukan penyesuain unit cost bagi jenjang pendidikan menengah. Kini, unit cost BOP untuk tiap jenjang pendidikan per peserta didik per bulan sbb: untuk SD/MI sebesar Rp. 60.000,- untuk SMP/MTs sebesar Rp. 110.000,- dan untuk SMA/MA sebesar Rp. 400.000,-. Sedangkan untuk SMK, besaran unit cost BOP bervariasi, tergantung jurusannya. Untuk jurusan manajemen dan bisnis sebesar Rp. 400.000,- untuk jurusan pariwisata dan seni sebesar Rp. 500.000,- dan untuk jurusan teknik, pertanian dan kesehatan sebesar Rp. 600.000,-

Seiring perkembangan jaman, peran BOP dalam memperluas akses pendidikan dirasa tak efektif lagi. Hampir seluruh masyarakat DKI Jakarta telah mampu mengakses pendidikan, yang ditandai dengan angka putus sekolah yang makin rendah serta APK dan APM makin tinggi. Dengan demikian, perlu adanya reposisi peran BOP.

Sejalan dengan hal tersebut, The World Bank bekerjasama dengan Pemprov DKI Jakarta telah melakukan evaluasi BOP. Hasilnya menunjukkan bahwa perlunya perluasan peran BOP, bukan hanya sekedar untuk membuka akses pendidikan bagi seluruh lapisan masyarakat tetapi juga harus mampu mendongkrak mutu pendidikan atau prestasi sekolah.

Dalam hasil evaluasinya, The World Bank juga menawarkan formula baru penghitungan alokasi BOP dengan mengacu pada 3 prisip, yaitu: alokasi dasar, alokasi keterpencilan/keadilan dan alokasi kinerja. Dengan 3 prinsip tersebut, maka sekolah dengan jumlah peserta didik sedikit dan sekolah terpencil seperti sekolah-sekolah di Kepulauan Seribu akan mendapatkan tambahan alokasi anggaran, berupa kompensasi keterpencilan dan kompensasi kemahalan transportasi. Untuk sekolah-sekolah yang berprestasi, juga akan diberikan tambahan alokasi anggaran BOP dari alokasi kinerja. Dengan penerapan 3 prinsip dasar ini diharapkan, sekolah akan berlomba-lomba mengejar prestasi untuk mendapatkan tambahan BOP dari alokasi kinerja.

Semoga penerapan formula baru alokasi BOP mampu mereposi peren BOP, bukan hanya sebagai jembatan akses pendidikan tetapi juga mampu mendongkrak dan mengukir prestasi sekolah.

BJ_Kang Agus, 2014

ANGKA KEMISKINAN DKI JAKARTA TERENDAH SE INDONESIA   1 comment

Angka kemiskinan DKI Jakarta per September 2011 sebesar 3,75% dan pada bulan Maret 2012 turun menjadi 3,69%. Angka kemiskinan tersebut terendah se Indonesia, dikuti oleh provinsi Bali, Kalimantan Selatan dan Bangka Belitung.  Meskipun prosentase  angka kemiskinan Provinsi DKI Jakarta relative rendah, namun jumlah penduduk miskinnya masih mencapai 286.075 KK atau ± 1,2 juta jiwa.

Menurut Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), angka kemiskinan di bawah 5% sudah masuk wilayah inti (hard core poverty) sehingga akan sangat sulit diturunkan. Untuk itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta harus secara terus menerus mencari terobosan guna mengurangi atau mengentaskan penduduk miskin.

Saat ini berbagai program penanggulangan kemiskinan telah digulirkan oleh Pemprov DKI Jakarta. Dari program yang berbasiskan bantuan langsung kepada masyarakat, usaha kecil menengah, pemberdayaan masyarakat sampai upaya menjaring peran serta  swasta melalui Corporate Social Responsibility (CSR).

Keseluruhan program penanggulangan kemiskinan tersebut dikoordinasikan oleh Tim Koordinasi Penangggulangan Kemiskinan (TKPK) Provinsi DKI Jakarta. Dalam pelaksanaanya, koordinasi pencapaian program-program penangggulangan kemiskinan dilaksanakan oleh kelompok program (klaster) yang terdiri dari 4 klaster, yaitu : (1). klaster 1, yaitu klaster Bantuan Sosial Terpadu Berbasis Keluarga; (2). klaster 2, yaitu klaster Penanggulangan Kemiskinan Berbasis Pemberdayaan; (3). klaster 3, yaitu Penanggulangan Kemiskinan Berbasis Pemberdayaan Usaha Ekonomi Mikro dan Kecil; serta (4). Klaster 4, yaitu klaster pendukung.

Adapun program-program unggulan Pemprov DKI Jakarta di bidang penanggulangan kemiskinan, antara lain :

  1. Jaminan Pelayanan Kesehatan Keluarga Miskin (JPK GAKIN);
  2. KB Gratis bagi Keluarga Miskin;
  3. Bantuan Biaya Pemakaman bagi Keluarga Miskin;
  4. Pemberian Beasiswa Rawan Putus Sekolah (RPS) bagi siswa miskin;
  5. Penataan RW Kumuh;
  6. Koperasi Jasa Keuangan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Kelurahan (KJK PEMK) bagi usaha mikro dan kecil; serta
  7. Pelatihan Keterampilan dan pembentukan kelompok Wira Usaha Baru (WUB) bagi para pencari kerja dan penganggur.

Dalam upaya menurunkan angka kemiskinan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga secara terus menerus mengkaji dan melakukan penyempurnaan terhadap program-program penanggulangan kemiskinan yang sudah ada. Di bawah kepemimpinan Gubernur Joko Widodo dan Wakil Gubernur Basuki Tjahya Purnama, dalam waktu dekat akan diluncurkan Kartu Jakarta Sehat (KJS) dan Kartu Jakarta Pintar (KJB). Dengan KJS tersebut, penduduk miskin di DKI Jakarta, bila sakit akan dirawat di rumah sakit yang ditunjuk secara gratis. Begitu juga KJP. Dengan  kartu tersebut, anak sekolah yang berasal dari keluarga mikin, selain gratis biaya sekolah yang dibiayai melalui Biaya Operasional Pendidikan (BOP) juga akan mendapat bantuan biaya personal yang dapat digunakan untuk transport, seragam, tas, alat tulis, dsb.

Melalui program-program tersebut, diharapkan masyarakat akan mendapat pelayanan yang lebih baik, dan pada akhirnya angka kemiskinan DKI Jakarta dapat diturunkan.

(Kang Agus, 2012)

Dirgahayu RI ke-66   Leave a comment

MERDEKA…!!!   MERDEKA…!!!  MERDEKA…!!!

Dirgahayu Indonesiaku…

Selamat Hari Ulang Tahun yang ke-66…

Semoga Indonesia Makin Berjaya…

Mari kobarkan kembali semangat perjuangan…

Membangun negeri kita tercinta…

.

LIRIK LAGU HARI MERDEKA (H. MUTAHAR)

Tujuh belas agustus tahun empat lima
Itulah hari kemerdekaan kita
Hari merdeka nusa dan bangsa
Hari lahirnya bangsa Indonesia
Merdeka..
Sekali merdeka tetap merdeka
Selama hayat masih di kandung badan
Kita tetap setia tetap setia
Mempertahankan Indonesia
Kita tetap setia tetap setia
Membela negara kita

Sumber : >> disini >>

Posted 17/08/2011 by Kang Agus in SERBA SERBI, Uncategorized

Tagged with ,

Kini Para “Roker Mania” Harus Berangkat Kerja Lebih Pagi   Leave a comment

Mulai tanggal 2 Juli 2011, PT. Kereta Api Indonesia (KAI) melalui anak perusahaannya PT. KRL Commuter Jabodetabek (KCJ) akan memberlakukan KRL commuter line (single operation). Dengan demikian seluruh KRL akan berhenti di setiap stasiun. Tidak ada lagi KRL ekspres maupun ekonomi AC. Sehingga kalau tidak mau terlambat masuk kerja, para Roker alias rombongan kereta harus siap-siap bangun dan berangkat kerja lebih pagi.

Sebelum di terapkan, kebijakan commuter line ini telah diujicobakan sebanyak 3 kali, yaitu tanggal 18 Juni, 30 Juni dan 1 Juli 2011 (hari ini). Adapun tarifnya bervariasi, yaitu : Jakarta – Bogor Rp. 7.000,-; Jakarta – Depok Rp. 6.000,-; Jakarta – Bekasi Rp. 6.500,-; Jakarta – Tangerang Rp. 5.500,- serta Jakarta – Sudimara / Serpong Rp. 6.000,-

Dengan dihapusnya kereta ekspes AC, maka para Roker yang biasa menggunakan kereta ekspres harus menempuh perjalanan 15 – 30 menit lebih lama dari biasanya. Kalau biasanya Depok – Jakarta bisa ditempuh 30 – 45 menit, kini bisa 1 jam lebih.

Menanggapi kebijakan ini, banyak opini yang berkembang. Ada yang menanggapinya dengan sikap optimis ada pula yang pesimis. Mereka yang optimis percaya bahwa kebijakan ini merupakan upaya PT. KAI untuk meningkatkan kualitas layanannya. Meskipun waktu tempuh menjadi lebih lama, tidak masalah karena sebetulnya total waktu perjalannnya sama saja. Dengan jadwal yang lebih  padat, maka para Roker tidak perlu lagi berlama-lama menunggu kereta di stasiun. Pada jam sibuk, kereta akan datang dalam waktu 10 – 15 menit. Selain itu, bagi Roker ekpres tarifnyapun turun. Kalau biasanya harus merogoh kocek Rp. 9.000,- sampai Rp. 11.000,- untuk Jakarta – Depok atau Jakarta – Bogor, kini cuma harus mengeluarkan Rp. 6.000,- untuk Jakarta-Depok atau Rp.7.000,- untuk Jakarta-Bogor. Jadi lebih hemat.

Namun, lain lagi pandangan mereka yang pesimis. Mereka beranggapan kebijakan ini suatu kemunduran, karena : pertama, PT. KAI bukannya meningkatkan kenyamanan,  justru malah memperkecil pilihan. Kalau sebelumnya penumpang memiliki 3 pilihan, KRL ekpres AC bagi mereka yang bersedia mengeluarkan kocek lebih besar dengan kompensasi lebih cepat, KRL Ekonomi AC yang lebih nyaman, namun berhenti di setiap stasiun, atau KRL ekonomi bagi penumpang yang mengharapkan angkutan murah meriah. Kini tinggal dua pilihan, KRL ekonomi atau comuter line. Keduanya berhenti di setiap stasiun.

Kedua, meskipun jadwal perjalanan lebih padat, mereka meragukan  PT. KJC bisa merealisasikan jadwal perjalanan commuter line sesuai yang telah ditetapkan. Kalau sekarang, dengan jadwal yang tidak terlalu padat saja KRL sering terlambat. Alasan kereta mogok, gangguan sinyal, gangguan wesel, sudah akrab di telinga para penumpang. Bagaimana dengan jadwal kereta yang lebih padat, apa tidak tambah krodit. Apalagi perengkatnya (kereta, rel, wesel, persinyalan) masih menggunakan perangkat lama. Dengan kondisi demikian, apa mungkin PT. KJC mampu merealisasikan jadwal yang telah dijanjikan.

Terlepas dari pendapat pro dan kontra, nampaknya kita sebagai penumpang setia KRL harus bijaksana. Kita harus berpikir positif. Kita beri kesempatan PT.KAI untuk berbenah diri. Toh dari hasil uji coba yang telah dilakukan, nampaknya tidak ada masalah yang berarti. PT. KJC nampaknya berusaha menepati komitmennya. Sejauh ini, jadwalnya tidak terlalu banyak bergeser. Hanya saja memang di jam-jam sibuk tetap saja super penuh, sehingga jauh dari kata nyaman.

Kita hanya bisa berharap mudah-mudahan kedepan pelayanan KRL commuter line jauh lebih baik lagi (Kang Agus, 2011)

Spanduk

Foto : Kang Agus, 2011

Stasiun Tanah Abang

Foto : Kang Agus, 2011

KRL Ekpres1

Foto : Kang Agus, 2011

Commuter Line

Foto : Kang Agus, 2011

KRL Ekpres2

Foto : Kang Agus, 2011

Commuter Line

Foto : Kang Agus, 2011

Commuter Line

Foto : Kang Agus, 2011

Commuter Line

Foto : Kang Agus, 2011

Meningkatkan Kapasitas SDM Melalui Permainan (Games)   1 comment

Di era yang serba canggih dan serba teknologi seperti sekarang ini, SDM berkualitas adalah sebuah keharusan. SDM menjadi pilar penting dalam mendukung keberhasilan suatu organisasi. Berkembang tidaknya suatu organisasi sangat dipengaruhi oleh kepedulian dan kualitas SDM yang menggerakkan organisasi tersebut. Dengan demikian, upaya peningkatan kapasitas (capacity building) dan pembangunan karakter (caracter building) SDM menjadi hal yang mutlak dilaksanakan.

Upaya mengembangkan SDM, dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya melalui pendidikan dan pelatihan (Diklat) kompetensi, pembinaan, outbond, tugas belajar, dll. Upaya pengembangan SDM juga dapat dilakukan sendiri oleh organisasi yang bersangkutan. Namun, dalam hal ini harus memperhatikan beberapa hal : (1). Komposisi SDM, sebagian besar SDM suatu organisasi merupakan kumpulan orang-orang dewasa, maka proses pembelajaran yang dipilih harus dengan metode pembelajaran orang dewasa (andragogi); (2). Iklim pembelajaran, harus diciptakan suasana pembelajaran yang memungkinkan semua peserta berbaur tanpa embel-embel jabatan; (3). Proses pembelajaran, hendaknya dirancang, dilaksanakan dan dievaluasi bersama.

Dalam proses pembelajaran orang dewasa, semua peserta harus dilibatkan  langsung dalam proses tersebut, thema yang dipilih harus menarik dan aplikatif, materi praktis dan bermanfaat, Harus diupayakan untuk mengekplorasi kemampuan dan pengalaman masing-masing individu, dilakukan pengulangan terus menerus serta harus saling pengertian. Melalui proses pembelajaran tersebut, mudah-mudahan materi yang disampaikan dapat diterima dan diserap oleh masing-masing peserta.

Selain itu, terdapat metode menarik yang juga dapat dilakukan sebagai alternatif dalam pengembangan  SDM. Metode tersebut adalah  permainan (games). Melalui pemaknaan terhadap permainan yang telah dipilih dan dirancang sesuai kebutuhan orang dewasa, maka proses pembelajaran dapat dilakukan lebih efektif. Pencapaian tujuan bisa lebih mendekati harapan, karena sesunguhnya permainan tersebut lebih diminati dan juga memenuhi unsur-unsur pembelajaran orang dewasa.

Melalui permainan dapat diketahui watak / karakter tiap-tiap individu. Dan melalui permainan juga dapat diketahui kemampuan seseorang dalam memimpin (leadership), sportivitas, tanggung jawab, kerjasama, kesabaran dan masih banyak lagi. Dan yang lebih penting, permainan juga dapat membangun karakter sesuai yang diharapkan.

Namun pada akhirnya, semua yang dirancang, semua yang diharapkan pastilah tak lepas dari kemauan dan kepedulian tiap-tiap individu untuk melakukan perubahan. Keinginan tiap-tiap individu untuk membuka diri menjadi bagian yang penting dalam pencapaian tujuan pengembangan SDM. Semoga kita termasuk orang-orang yang bersedia hijrah kepada kebaikan (Kang Agus, 2011).

Games

Foto : Kang Farza, 2011

Games2

Foto : Kang Farza, 2011

Games3

Foto : Kang Farza, 2011

Games4

Foto : Kang Farza, 2011

Games5

Foto : Kang Farza, 2011

Games6

Foto : Kang Farza, 2011

Jakarta, Makin Dewasa Dengan Berbagai Tantangan   Leave a comment

Hari ini (22 Juni 2011) kota Jakarta berulang tahun yang ke 484 tahun. Untuk ukuran sebuah kota, usia 484 tahun tentunya bukanlah usia muda lagi. Jakarta tumbuh makin dewasa. Maka, tak heran jika Jakarta terus berkembang, makin menarik dan terus bersolek mempercantik dirinya.

Namun, diusianya yang makin dewasa tersebut, ternyata berbagai tantangan juga masih terus menghadang. Berbagai masalah perkotaan masih terus membelit dirinya, dari kemacetan, banjir, pengangguran,  Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS), sampai tawuran warga  yang masih sering terjadi di beberapa tempat.

Berbagai upaya memang telah dilakukan, dari penerapan jalur busway yang sempat menuai pro dan kontra dalam upaya penanganan kemacetan di ibukota, pembangunan Banjir Kanal Timur (BKT) untuk mengantisipasi luapan air di belahan timur Jakarta, penciptaan kesempatan kerja bagi para penganggur, serta penertiban dan pembinaan PMKS.

Namun, berbagai upaya tersebut seakan belum membuahkan hasil yang maksimal. Jakarta masih terus macet. Polusi udara dan air hampir terjadi di setiap tempat, angka pengangguran tak kunjung turun, PMKS terus bertambah, banjir masih menjadi momok yang mengkhawatirkan warga kota. Laju pertumbuhan masalah perkotaan seakan lebih cepat dari upaya untuk mencari solusinya. Sehingga permasalahan kota seakan tak pernah habis dan tak akan pernah ada habisnya.

Di ulang tahun ke 484 tahun ini, semoga bisa menjadi titik balik. Semoga pemerintah pusat, pemerintah daerah, swasta, masyarakat serta seluruh pemangku kepentingan (stake holders) dapat bahu membahu membangun Jakarta serta bersama-sama berupaya menciptakan Jakarta yang lebih manusiawi, bersih, sejuk dan nyaman.

SELAMAT ULANG TAHUN JAKARTA, DIUSIANYA YANG MAKIN DEWASA SEMOGA JAKARTA MAKIN JAYA.

(Kang Agus, 2011)

HUT DKI

HUT DKI 484

HUT DKI

Ultah DKI

Foto : Kang Agus, 2011

Posted 22/06/2011 by Kang Agus in SERBA SERBI

Tagged with , , , ,

Mengembangkan Produk Lokal Dengan Konsep Ala Jepang   Leave a comment

Seperti kita ketahui bersama, Jepang adalah jagonya dalam hal pengembangan produk. Begitu juga dalam pengembangan produk lokal, Jepang juga memiliki konsep jitu. Konsep tersebut adalah One Village One Product (OVOP). Desain konsep ini mensyaratkan satu desa harus memiliki satu produk unggulan yang memiliki keunikan / ciri khas, memiliki nilai tambah serta potensial untuk dapat dikembangkan.

OVOP merupakan implementasi dari konsep ekonomi kerakyatan. Prinsip OVOP menekankan pada dimensi keadilan dalam penguasaan sumber daya ekonomi, proses produksi dan konsumsi. Konsep ini berusaha menghadirkan komunitas mandiri yang mampu menciptakan produk unggulan tanpa bantuan pembiayaan dari pemerintah.

Sebetulnya Indonesia juga telah mulai “meniru” konsep OVOP sejak 3 tahun lalu melalui Peraturan Menperin Nomor 78 Tahun 2007, tentang peningkatan efektifitas pengembangan UKM dengan pendekatan OVOP.  Namun hingga kini hasilnya belum optimal. Hal ini terlihat dari belum adanya peningkatan yang signifikan terhadap daya saing produk-produk UKM di Indonesia secara umum.

Dengan dibukanya pasar bebas ASEAN-CHINA, persaingan produk makin ketat. Bila produk kita tidak berkualitas, maka dengan sendirinya tidak akan mampu bertahan. Pada akhirnya, UKM dan industri kecil yang selama ini telah menjadi pilar ekonomi kita terancam gulung tikar. Maka, kini saatnya kita berbenah diri. Kita harus belajar dengan “meniru” konsep OVOP dengan benar.

Prinsip dasar konsep OVOP sesunguhnya relatif sederhana. Upaya pengembangan produku lokal dilakukan dengan cara : (1). Menemukan atau menciptakan kekhasan / keunikan produk suatu wilayah, sehingga dapat dijadikan sebagai merk sekaligus kebanggaan wilayah tersebut; (2). Menciptakan produk yang bernilai tambah tinggi, namun tetap menjaga kelestarian lingkungan, sehingga dapat diterima dan diakui secara nasional maupun internasional; (3). Satu desa mengembangkan satu produk unggulan, sehingga lebih fokus dan akan tercipta banyak produk unggulan yang bardaya saing tinggi di suatu wilayah.

Bila dikembangkan di DKI Jakarta, maka OVOP dapat dianalogikan satu kelurahan memiliki satu produk unggulan. Dengan demikian, Kota Adm. Jakarta Pusat yang terdiri dari 44 kelurahan akan memiliki 44 produk ungulan. Demikian juga DKI Jakarta, dengan 267 kelurahan maka akan tercipta 267 produk unggulan.

Bila ditelusuri lebih jauh, sesungguhnya tiap-tiap kelurahan telah memiliki produk yang diunggulkan. Saatnya pemerintah kota melakukan pemetaan terhadap produk-produk tersebut. Apakah produk tersebut memiliki nilai jual / nilai tambah, mewakili karakter kelurahan yang bersangkutan, memiliki ciri khas / keunikan, memiliki daya saing yang tinggi, serta memiliki potensi untuk dikembangkan. Bila prasyarat tersebut terpenuhi, maka pemerintah kota hanya tinggal melakukan pendampingan / asistensi dalam pengembangan produk tersebut, kemudian memberi bimbingan dalam proses pemasaran yang biasanya menjadi kendala UKM dan industri kecil.

Dengan kemandirian yang menjadi landasan pengembangan OVOP, maka konsep ini sesungguhnya tidak akan membebani pemerintah daerah. Justru akan mengurangi beban pemerintah daerah dalam penyelesaian masalah pengangguran serta kesejahteraan masyarakat. Keberadaan produk unggulan juga dapat dijadikan sebagai salah satu kebanggaan pemerintah kota (Kang Agus, 2011).

Produk Unggulan DKI Jakarta

Produk Unggulan JP (Foto : Kang Agus, 2011)

Produk Unggulan DKI Jakara

Produk Unggulan JP (Foto : Kang Agus, 2011)

Produk Unggulan DKI Jakarta

Produk Unggulan JP (Kang Agus, 2011)

Produk Unggulan DKI Jakarta

Produk Unggulan JP (Foto : Kang Agus, 2011

Produk Unggulan DKI Jakarta

Produk Unggulan JP (Foto : Kang Agus, 2011)

Produk Unggulan DKI Jakarta

Produk Unggulan JP (Foto : Kang Agus, 2011)

Posted 08/06/2011 by Kang Agus in Event Kota

Tagged with , , ,

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.